"Selamat Datang Di Blogku..."

Sabtu, 14 Januari 2012

Emela-Ntouka, Cryptoid Pembunuh Gajah Dari Afrika

Sebuah Sketsa Tentang Jati Diri Emela-Ntouka
Afrika memang memiliki banyak misteri yang belum terpercahkan, salah satunya adalah tentang keberadaan salah satu hewan cryptid yang diisukan sebagai penyebab keberadaan gajah di Afrika menurun, yaitu Emela-Ntouka, seekor makhluk cryptoid pembunuh gajah dari Afrika.

Makhluk yang merupakan salah satu makhluk dari mitologi suku pygmy ini, dipercaya sebagai salah satu makhluk yang nyata, dan hidup di Afrika Tengah. Nama Emela-Ntouka sendiri diambil dari bahasa lingala atau bahasa suku pygmy yang berarti "pembunuh gajah".

Dari beberapa keterangan yang dilaporkan dan didapatkan, Emela-Ntouka sendiri mempunyai postur tubuh sebesar gajah Afrika, salah satu spesies gajah terbesar dengan panjang kurang lebih 7 meter dan tinggi 4 meter. Emela-Ntouka memiliki kulit berwarna kecokelatan dan sedikit keabu-abuan, dengan ekor yang besar dan panjang, tanduk di hidung layaknya badak, dengan panjang 1 meter. Emela-Ntouka berjalan menggunakan 4 kaki besarnya yang mampu menopang tubuhnya yang berbobot hampir 1 ton. Emela-Ntouka juga mampu berenang dan makanannya adalah tumbuhan.

Struktur tanduk Emela-Ntouka sendiri masih menjadi perdebatan bagi para ilmuwan. Ada 2 pendapat mengenai asal usul tanduk ini. Pendapat yang pertama adalah tanduk tersebut sebenarnya adalah sejenis gading, maka kemungkinan besar tanduk tersebut adalah taring (gading pada gajah sebenarnya adalah gigi taring yang besar sehingga mampu keluar dari mulut), dan beberapa badak juga memiliki tanduk dengan ciri-ciri yang sama, terutama badak bercula satu yang hidup di Ujung Kulon, Indonesia. Namun, spesies seperti ini tidak ditemukan di Daratan Afrika. Namun, jika sebenarnya tanduk Emela-Ntouka sebenarnya adalah tanduk aslinya atau murni, maka ia dapat digolongkan sebagai jenis reptilia, karena tanduk tersebut merupakan salah satu dari tulangnya, seperti halnya dinosaurus bertanduk atau ceratopsians. 

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa tanduk Emela-Ntouka terbuat dari keratin (salah satu protein yang menjadi komponen bagian keras dalam tubuh, seperti kuku dan rambut), bukan dari tulang atau giginya, sama seperti badak endemik Afrika.

Emela-Ntouka diyakini hidup di perairan dangkal, seperti danau dan rawa-rawa. Emela-Ntouka sering terlihat di muara sungai Kongo, yaitu danau Likouala di Republik Kongo. Emela-Ntouka juga sering terlihat di Danau Bangweulu di Zambia dan beberapa tempat di Kamerun. 

J.E. Hughes yang menerbitkan bukunya yang berjudul "Eigtheen Years On Lake Bangwelu", pada tahun 1933, menceritakan tentang suku Wa-Ushi yang membunuh seekor hewan yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan Emela-Ntouka, tetapi dalam buku tersebut tidak disebutkan namanya, di tepi sungai Luapua yang terhubung dengan danau Bangweulu.

Nama Emela-Ntouka sendiri pertama kali dikenal dari sebuah artikel di Journal Mammalia, pada tahun 1954. Artikel tersebut ditulis oleh Lucien Blancou. Dalam artikelnya tersebut, ia mengatakan bahwa Emela-Ntouka memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan kerbau, dan berhabitat di rawa-rawa Likouala, dan disebutkan juga bahwa makhluk ini sering membunuh gajah yang menjadikan asal filosofi namanya.

Pada dua ekspedisi ke Kongo, Dr. Roy P. Mackal pada tahun 1980 dan 1981, ia mendapatkan detail ciri-ciri Emela-Ntouka dari beberapa penduduk setempat. Dan pada tahun 1987, ia menerbitkan sebuah buku berjudul "A Living Dinosaur".
Monoclonius (atas) dan Centrosaurus (bawah), Ceratopsians Yang Diklaim Sebagai Identitas Asli dari Emela-Ntouka
Penjelasan paling terkenal dan paling banyak yang setuju adalah identitas Emela-Ntouka yang sebenarnya adalah seekor ceratopsians yang masih hidup. Argumen ini berdasarkan kesimpulan bahwa daerah Kongo di Afrika merupakan tempat yang dahulunya pernah hidup hewan-hewan prasejarah, seperti contohnya dinosaurus atau hewan-hewan prasejarah yang lainnya. Selain itu, tempat tersebut juga dipercayai merupakan tempat hidup salah satu cryptid terkenal pada masanya, yaitu Mokele Mbembe yang dipercaya sebagai sauropod yang masih hidup dan Mbielu-Mbielu-Mbielu yang dipercaya sebagai stegosaurus yang masih hidup hingga saat ini.

Pada ekspedisinya yang kedua, pada tahun 1981, Mackal menyebutkan bahwa identitas Emela-Ntouka sebenarnya adalah  seekor Monoclonius atau Centrosaurus, salah satu jenis dinosaurus bertanduk. Tetapi, suku pygmy tidak menyebutkan bahwa Emela-Ntouka memiliki jumbai, seperti yang dimiliki oleh kebanyakan ceratopsians. 

Seorang Crytozoologist, Loren Coleman, tidak setuju dengan pendapat Mackal yang menyebutkan bahwa identitas Emela-Ntouka sebenarnya adalah dinosaurus, tetapi ia berkesimpulan bahwa Emela-Ntouka adalah spesies baru dari jenis badak afrika.

Daerah-daerah di Afrika memanglah belum banyak yang terjamah manusia, karena sulitnya menjelajah medan dan mencari suplai makanan dan air. Karena itulah, jika mungkin di suatu tempat di daratan Afrika hidup hewan yang belum kita kenal sampai saat ini adalah hal yang wajar. 

Tetapi, adanya jenis dinosaurus yang masih bertahan hidup hingga sekarang mungkin bisa saja terjadi, bukankah komodo, tuatara, dan coelacanth  masih hidup hingga sekarang?



Sumber :http://xfile-enigma.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar